Oleh : | 10 September 2014 | Dibaca : 21607 Pengunjung
|
| Kintamani dengan Geopark dan DMO Batur |
Kintamani. Sebuah nama yang telah tersohor dari zaman
penjajahan Belanda. Nama Bali, khususnya Kintamani mulai dikenal di
kancah internasional pada tahun 1912, lewat sebuah buku yang ditulis
oleh seorang dokter muda asal Jerman yang bernama Gregor Karuse dengan
bukunya yang berjudul Bali 1912. Buku inilah yang dikatakan “membidani”
lahirnya pariwisata Bali.
Meskipun sisi kecantikan wanita Bali menjadi perhatian
utama, Gregor Krause membahas semua aspek kehidupan masyarakat Bali
dalam buku tersebut. Mulai dari keseharian masyarakat, tradisi Hindu,
upacara di Pura, masyarakat desa, pertanian, Ngaben hingga keramahan
para punggawa Bali bahkan kepada tawanan perang.
Nah dari buku itulah kecantikan alam kintamani mulai dikenal oleh bangsa Eropa. Yang menjadi
main attraction di Kintamani itu sendiri adalah Gunung & Danau Batur,
Sunrise dan juga Anjing Kintamani. Gunung Batur sendiri tepat berada di
sisi danau Batur. Gunung Batur memiliki ketinggian sekitar 1.717 mdpl
yang telah meletus sebanyak 30 kali tercatat dari tahun 1804 – 2000.
Letusan yang terbesar tercatat pada tanggal 2 Agustus dan berakhir 21
September 1926 yang menelan banyak korban jiwa dan memusnahkan Pura Ulun
Danu Batur serta Desa Batur. Sedangkan letusan terakhirnya terjadi pada
tahun 2000. Hingga saat ini Gunung Batur masih berstatus aktif.
Letusan tersebut kemudian membentuk kaldera dan meninggalkan
hasil letusan yang tak ternilai harganya. Hal ini lah yang mendasari
dimasukkannya Gunung Batur ke dalam GGN (Global Geopark Network).
Menurut professor Nakada, terdapat tiga unsur utama yang menjadikan
geopark bertahan sebagai geopark. Yaitu : 1. Tidak adanya perubahan
terhadap landscape terus menerus karena ulah manusia. 2. Geopark
tersebut harus berperan menjadi sumber pembelajaran dan penegtahuan bagi
masyarakat di sekitarnya mengenai gunung api dan atau yang lain baik
yang membahayakan ataupun yang bermanfaat bagi masyarakat tersebut. 3.
Peranannya sebagai atraksi wisata. Untuk kriteria yang yang kedua
sendiri, yakni sebagai sumber pembelajaran dan penegtahuan bagi
masyarakat, di Kintamani telah dibangun sebuah museum yang menyimpan
berbagai peninggalan letusan Gunung Batur yang bernama Museum Gunung Batur.
Profesor Nakada menambahkan, faktor ekonomi merupakan salah satu
tantangan berat, agar status sebuah geopark tetap bertahan dalam GGN.
Hal ini terutama terjadi pada geopark yang menjadi sumber perekonomian
bagian masyarakat sekitar, yang memanfaatkan galian di sekitar lokasi
geosite. Hal inilah yang juga terjadi pada Geopark Batur yang telah
menjadi tempat galian batu dan pasir (galian C) semenjak puluhan tahun lalu.
Untuk membangun kembali pariwisata di Kintamani yang pernah meredup
serta untuk mempertemukan seluruh stakeholders di Kintamani agar terjadi
kata “sepakat” dalam pengembangan Kintamani tersebut, maka dibentuklah
Destination Management Organization (DMO) Batur – Kintamani.
DMO inilah yang kemudian menjadi katalisator bagi seluruh stakeholders
di Kintamani, mulai dari Pemerintah, Swasta serta Masyarakat agar
menemukan kata “sepakat” untuk pengembangan kawasan pariwisata kintamani
kedepannya. DMO Batur Kintamani merupakan salah satu dari 15 DMO yang
ada di Indonesia yang wilayah kerjanya meliputi 15 desa yang terdapat di
Kecamatan Kintamani. Masing – masing desa kemudian dibuatkan Lokal
Walking Group (LWG), yang totalnya terdapat 15 LWG dengan nama Wingkang
Ranu. Dari 15 LWG tersebut, kemudian dibagi lagi menjadi 5 kelompok
dimana setiap kelompok beranggoatakan 3 LWG. Kelompok tersebut antara lain :
1. Batur Kalanganyar (Desa Batur Utara, Batur Tengah dan Batur Selatan).
2. Singamandawa (Desa Kintamani, Desa Sukawana dan Desa Pinggan/)./
3. Ulundanu Muncar (Desa Songan A, Songan B dan Desa Blandingan).
4. Manuk Jambe Tarumenyan (Desa Trunyan, Desa Kedisan dan Desa Buahan).
5. Abang Erawang (Desa Abang Songan, Abang Batu Dinding dan Desa Suter).
LWG tersebut bertugas untuk menggali potensi wisata yang terdapat di
desanya masing – masing. DMO yang dibantu oleh LWG terebut juga
melakukan penyuluhan mengenai pengembangan pariwisata di Kintamani
termasuk status Gunung Batur yang telah menjadi anggota GGN. Dengan
pendekatan bottom – up, yakni dari masyrakat yang diteruskan ke penentu
kebijakan, diharapkan DMO tersebut dapat memfasilitasi masyarakat untuk
menyampaikan hambatan ataupun keluhan yang terjadi di lapangan ke pada
penentu kebijakan serta sebaliknya. Hingga akhirnya seluruh stakeholders
bertemu pada satu titik untuk pengembangan pariwisata di Kintamani yang
lebih baik.
source : http://dpw-fortius.blogspot.com/search/label/Bangli%20Regency%20Tourism
SELAMAT TAHUN BARU 2026
171Rahajeng Rahinan Galungan & Kuningan
1475INFORMASI KUNJUNGAN DESA WISATA PENGLIPURAN
900Rahajeng Rahinan Galungan Lan Kuningan
1913DIRGAHAYU KOTA BANGLI KE 820
KEPALA DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN KAB. BANGLI
I WAYAN DIRGA YUSA, AP, M.SI